Jumat, 25 September 2015

Tetaplah bersyukur

Apakah kau mendambakan istri spt ibumu?
Yang menyambut kedatangan suami?
Yang menyiapkan minum tanpa diminta walau kadang tidak diminum?
Yang menyiapkan makan tanpa harus memintanya?
Yang membahagiakan saat mendapat pemberian?
Yang selalu mengingatkan seperti kpd anak kecil ttg semua hal hingga kau bosan?
Yang tak pernah menyesal ketika yang dihidangkan tidak termakan, karena yang diharap adalah pengabdian kpd suami.

Tetaplah bersyukur.
Kau dijodohkan dengan apa yang telah Allah tetapkan sebagai yang terbaik.
Jika kau bertanya, akan ada penafsiran yang berbeda.
Bisa jadi kau dianggap menuntut.
Bisa jadi kau dianggap tak memahami.
Bisa jadi kau dianggap bukan suami terbaik.

Tetaplah bersyukur.
Pada perbedaan sudut pandang.
Pada perbedaan karakteristik.
Pada perbedaan kebiasaan.
Pada perbedaan selera.
Pada perbedaan menyelesaikan masalah.
Pada perbedaan apapun yang ada.
Tetap bersyukur.

Berubahlah perlahan tapi pasti.
Tak perlu memaksa diri terlalu jauh untuk berubah.
Sesuaikan ritme dengan kemampuan diri.
Tak perlu hiraukan orang yang hanya bisa menilai.
Karena mudah baginya, tidak semudah bagi orang lain.

Tetaplah bersyukur

Kamis, 24 September 2015

Mengaku

Aku mengaku kelalaian untuk tetap diam adalah masalah besar.
Andai ada kesanggupan bercerita tentang sebuah sekema masa di waktu lalu.
Ingin kucurahkan pada masa-masa yang diidamkan banyak bujang.
Tapi itu tak mudah.
Seperti mudahnya orang lain menganggapnya.
Aku mengaku kesalahan pada kekurangan ilmu dan kejujuran.
Terjebak pada kenyamanan.
Terperosok pada keengganan pada keromantisan.
Dan bisakah kau perkirakan bahwa pertanyaan banyak orang telah menudingku.
Akhirnya kedinamisan kerja menolongku.
Menolong pada segala tanya yang membuatkan hati kecut.
Aku mengaku..
Bagaimana mampu kuutarakan gembira resah yang kupendam bertahun lamanya.
Terusik kejam pada sikap yang membuatku selalu bersalah.
Aku mengaku..
Mengaku salah pada semua sikap yang menyakitkan.
Menyakiti dirimu adalah menyakiti diriku.

Sabtu, 19 September 2015

Belajar itu Menikmati

Belum lama ketika Allah pertemukan dengan sebuah komunitas yg memberikan berjuta makna. LifeSign. Itu adalah topik yang sedang coba kupelajari. Ada apa dengan "the Power of Lifesign" ? Ternyata dibalik sebuah pertemuan bukanlah sebuah kebetulan. Ada takdirbl Allah yang menuntut kita tau apa maksud dari rencana Allah.
Maka ketika sebuah 'broadcast' mengajak untuk bergabung dalam sebuah grup online. Di dalamnya ada banyak orang-orang dengan latar belakang berbeda yang mampu memberi energi untuk bertahan, belajar dan menikmati. Hingga sebuah topik 'lifesign' menjadi sebuah tanda tanya besar. Apa itu?? Jawabannya masih perlu waktu untuk sebuah ketegasan. Tapi makna dalam nyata. Allah pertemukanku dengan sebuah komunitas yang kini membuatku memiliki ruang untuk semangat belajar dan memberanikan diri untuk BISA. Semangat menuntut ilmu dari master-master di bidangnya, pengalaman-pengalaman berharga dari penjelajah waktu. Dan pada tempat yang belum kurencanakan, kini memposisikanku untuk berani lebih tinggi.
Mendekat pada yang hebat. Membuatku semakin dahsyat.
Terus mendekat pada semangat dan kebaikan.
Webpraktis.com telah membuka jalan untuk berani menjalin sebuah sinergi dengan khalayak yang belum pernah kupikirkan. Ia datang begitu saja. Ia terjalin dengan sederhana. Dan mengikat keseriusan kata bersama sikap. Untuk terbang lebih tinggi bersama impian.

-bersambung