Kamis, 29 Oktober 2015

Dan hanya sekedar cerita

Melukis cinta di tinggi merapi.
Biar ku terbakar pada murka bumi
Dan kau melihat duka di ujung matanya.
Tak ada tangis hanya semburat jingga menganga.
Kini kubiarkan hati menggugat kecewa.
Karena tidak semua menyuka adanya.
Kita dan dunia tau.
Tak perlu ada airmata tercipta.
Walau kutau.
Kita tak dapat menahan setiap duka.
Kita...
Dan ku biarkan semua meraja mimpi.
Hanya mimpi.
Dan tak perlu menyata.
Kau tau.
Aku tak lagi perlu membiru.
Biar ada sahabat lain yang mampu menjagamu.
Untuk sekedar mengurai sayang dalam runutan cerita.
Ya.. hanya sekedar cerita.

Rabu, 28 Oktober 2015

Pada Hati yang terbuka

Jika hati terbuka,
Dari sana ada banyak cinta.
Dermaga dari segala rasa
Pelabuhan dari semua persinggahan.

Jika hati terbuka,
Adakah rasa yang mengungkit cinta.
Menertawakan ketika ia terluka.

Jika hati terbuka,
Pernahkah sebuah rasa bertahta disinggasananya
Menikmati setidaknya prahara yang menjadi dilema.

Pada hati yang terbuka,
Cobalah memahami cinta sang Pencinta

Minggu, 25 Oktober 2015

Tercekat pada Renungan

Tercekat pada renungan.
Kau berpura pada waktu untuk mengalihkan peristiwa.
Sedang yang telah kau laku adalah sebeuah kekeliruan.

Tercekat pada renungan.
Apa kau kira waktu yang pergi enggan menemui kembali.
Maka tak perlu menyesal berlama.
Kembalilah pada nyata waktumu.
Ia akan kembali menuntun pada kehidupan yang bukan kebetulan.
Dan jadikan niscaya-Nya sebuah penuntun mega drama dunia.

Tercekat pada renungan.
Mendasar khilaf yang terulang.
Terjadi tragedi.
Untuk kita renungi bukan sekedar meratapi.

Sahabat adalah Rezeki #2

Akan kulanjutkan sebuah kisah yang menyita aktifitas bersama.
Pada impian tak sengaja tercerna usul aktifitas.
Kala bersamanya ada celah utk mencuri impian di sela-sela kesibukan.
Dan apa yang tak kurencana kini menjadi sbuah calon mahakarya.
Kebersamaan itu menjadi kelas evaluasi dari kecelakaan diri.
Yang mengobati sisa-sisa tragedi.
Yang menyemangati kegundahan diri.
Dan waktu menyapa kesetiap harian.
Pada semua rencana yang terbantu.
Pada kepadatan karya yang mengganggu.

-dan percayalah kepada siapa kita dipertemukan bukanlah sebuah kebetulan.
Tuhan menghimpun kita pada kelompok-kelompok yang semestinya.
Karena Sahabat yang baik adalah rezeki.

#itudulu

Minggu, 18 Oktober 2015

Sahabat adalah rezeki

+Lo bete ya mas??
Sejenak pertanyaan itu singgah tepat di depan mata.
Apa gerangan yang menjadikan korelasinya.

+Kenapa memangnya?
- Lo ga mau makan.

Kami baru saja dekat dalam sebuah komunitas. Namun entah perhatiannya melebihi sebuah pertemanan yang begitu lama.
Sosoknya adalah primadona dari sekian banyak wanita.
Pengetahuannya cukup dibutuhkan bagi sebagian semua.
Dan keahliannya mampu membuat para ibu berkenan mengundangnya.
Dan aku di pertemukan dalam 1 tim pergerakan digital.

+Lo aneh ya mas
Dan kalimat itu merasuk ke dalam hati paling pojok.
Tak ada sengketa yang akhirnya saling menjauhi.
Justru kalimat-kalimat selanjutnya bertakar canda disepanjang kata terucap.

Baiklah.
Ini bisa jadi sebuah rezeki.
Karena sahabat yang baik juga sebuah rezeki.

#cukupitusaja

Rasaku

Ia mengulang petualangan yang tak semestinya.
Mengigau malapetaka yang terpuruk.
Dan pada waktu ia mengulang rasa petaka.
Aku berusaha mengeja rasa diantara kita.
Rasa yang kita punya.
Rasa yang kita cipta.
Rasa yang kita dibuatnya kecewa.
Pada untaian waktu ia kembali.
Kembali menyapa raga dan hati.
Sedang kau mulai menyukai.
Menyukai diri dan dirinya.
Menyayangi rasa dan rasanya.
Coba kau tanya pada ketuhananmu.
Pada pencipta yang selalu mencintai.
Pada pencipta yang selalu menyayangi.
Dan bersama kemudahan ada kesulitan.
Bersama kesulitan ada kemudahan.
Maka coba kau tulis derita di malam buta.
Agar semua rasa yg kau punya mencapai puncaknya.